Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan 👉 Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!

01. Backlink Indonesia 26. Iklan Maluku Utara
02. Backlink Termurah 27. Iklan Nusa Tenggara Barat
03. Cara Membeli Backlink 28. Iklan Nusa Tenggara Timur
04. Iklan Aceh 29. Iklan Online Indonesia
05. Iklan Bali 30. Iklan Papua
06. Iklan Bangka Belitung 31. Iklan Papua Barat
07. Iklan Banten 32. Iklan Riau
08. Iklan Bengkulu 33. Iklan Semesta
09. Iklan Dunia 34. Iklan Sulawesi Barat
10. Iklan Gorontalo 35. Iklan Sulawesi Selatan
11. Iklan Internet 36. Iklan Sulawesi Tengah
12. Iklan Jakarta 37. Iklan Sulawesi Tenggara
13. Iklan Jambi 38. Iklan Sulawesi Utara
14. Iklan Jawa Barat 39. Iklan Sumatra Barat
15. Iklan Jawa Tengah 40. Iklan Sumatra Selatan
16. Iklan Jawa Timur 41. Iklan Sumatra Utara
17. Iklan Kalimantan Barat 42. Iklan Terbaru
18. Iklan Kalimantan Selatan 43. Iklan Yogyakarta
19. Iklan Kalimantan Tengah 44. Jaringan Backlink
20. Iklan Kalimantan Timur 45. Jasa Backlink
21. Iklan Kalimantan Utara 46. Jasa Backlink Murah
22. Iklan Kepulauan Riau 47. Jasa Backlink Terbaik
23. Iklan Lampung 48. Jasa Backlink Termurah
24. Iklan Link 49. Media Backlink
25. Iklan Maluku 50. Raja Backlink

Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!

Tampilkan postingan dengan label saint. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saint. Tampilkan semua postingan

Peran dan Manfaat Besi di Dalam Tubuh

Besi dengan singkatan Fe (Ferro) di dalam tubuh terdapat sebagai komponen hemoglobin, myoglobin, dan cytochrome, terdapat juga pada enzim katalase dan peroksidase pada komponen- komponen tersebut besi sebagai porphyrin. Besi adalah unsur mikro (trace element) yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh yang berperan dalam tubuh pada proses respirasiseluler. Besi yang tersisa didalam tubuh berikatan dengan protein, sebagai protein penyimpan (dalam bentuk ferritin dan hemosiderin) dan bentuk transport (dalam bentuk transferin).


Manfaat Besi dalam Tubuh
1.    Peran senyawa yang mengandung besi didalam tubuh yaitu :
2.    Dalam  pengangkutan (carrier) O2 dan CO2,
3.    Pembentukkan sel darah merah,
4.    Sebagai katalisator pembentukkan betakaroten menjadi vitamin A,
5.    Sintesis collagen,
6.    Sintesis DNA,
7.    Detoksifikasi zat racun pada hepar,
8.    Transport elektron pada mitokondria, 
9.    Proliferasi dan aktivasi dari sel T, sel B dan sel NK.

Jumlah Besi di Dalam Tubuh
Jumlah besi dalam kompartemen tubuh yaitu dalam bentuk transferin 3-4 mg, hemoglobin dalam sel darah merah 2500 mg, dalam bentuk mioglobin dan berbagai enzim 300 mg, disimpan dalam bentuk feritin dan dalam bentuk hemosiderin 1000 mg. Tidak ada jalur fisiologis untuk pengeluaran Fe dari tubuh, sehingga absorbsi diatur secara ketat melalui duodenum proksimal. Pada keadaan normal tubuh akan kehilangan 1 mg besi per hari dan akan digantikan melalui absorpsi.

Absorbsi/ penyerapan besi akan meningkatkan bila dikomsumsi bersama dengan asam Askorbat (vitamin C ) yang banyak terdapat pada buah-buahan tertentu.

Faktor penghambat absorbsi besi diantaranya adalah pytat, besi berikatan pada senyawa fenolik (kopi, teh, sayuran tertentu, bumbu tertentu), magnesium dan kalsium ( misalnya dalam susu dan keju). Dalam diet sebagai besi heme (Fe3+) yang berasal dari hewani dan besi non heme (Fe2+) yang berasal dari nabati. Besi diabsorbsi dalam bentuk Fe2+, reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ oleh enzim ferireduktase. Enterosit di duodenum proksimal berperan dalam absorbsi Fe. Besi diangkut dalam tubuh adalah dalam bentuk transferin. Konsentrasi Transferin dalam plasma sekitar 300 mg/dL.

Mekanisme absorbsi / penyerapan besi dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1.    Intake besi dari diet dalam bentuk besi heme atau non heme yang penyerapannya diatur secara ketat pada duodenum proximal sehingga tubuh hanya kehilangan besi 1 mg/hari yang pengaturannya lewat absorpsi.
2.    Besi dalam bentuk Ferri (Fe3+) direduksi menjadi bentuk ferro (Fe2+) oleh ferireduktase yang terdapat pada permukaan enterosit. Enterosit terdapat pada permukaan duodenum proximal yang berperan untuk penyerapan besi. Adanya Vitamin C dalam diet mempermudah reduksi ferri menjadi ferro. Kemudian besi ferro diangkut kedalam enterosit menggunakan divalent metal transporter (DTM1).
3.    Besi dalam bentuk heme ( Ferro ) dibawa oleh pengangkut heme yang disebut Heme Transport (HT) ke dalam enterosit dan oleh Heme Oksidase (HO) , Fe2+ dibebaskan dari heme.
4.    Besi dalam enterosit, kemudian sebagian disimpan dalam bentuk ferritin dan sisanya berikatan dgn Feroportin (FP) untuk dibawa menembus membran basolateral.
5.    Feroportin (FP) dapat berikatan dengan Hephaestin ( serupa dengan Ceruloplasmin ) yang memiliki aktifitas feroksidase untuk dibawa ke aliran darah.
6.    Didalam plasma Hephaestin akan mengubah besi dalam bentuk ferro menjadi ferri yang kemudian berikatan dengan transferin yang merupakan protein pengangkut besi dalam plasma darah. 

Besi yang bebas tadi akan digunakan oleh sel / jaringan. Terdapat dua kelompok pemakaian besi, yaitu kelompok fungsional (80 %) : hemoglobin, myoglobin, sumsum tulang, dan enzim. Kelompok kedua yaitu kelompok cadangan (20%), disimpan dalam bentuk ferritin dan hemosiderin. Pada kondisi normal feritin menyimpan besi yang dapat diambil kembali untuk digunakan sesuai kebutuhan. 
Kekurangan besi dan Kadar Besi Normal di Dalam Tubuh Akibat defisiensi / kekurangan besisebagian besar akan menyebabkan anemia normositik hipokrom.
Tanda-tanda lain adalah :
         Terganggunya pembentukan eritrosit,
         Terganggunya produksi kolagen, dan
    Menurunnya pembentukan sel T, sehingga menyebabkan terganggunya respons lymposit terhadap mutagen dan antigen.
Kadar besi di dalam tubuh pada kondisi normal  nilai rata-rata besi didalam serum darah adalah 65 � 175 �g besi /100 ml serum.




SIKLUS SEL

Siklus sel mengarah pada pembelahan sel. Dimana 1 sel akan menghasilkan 2 sel. Sel tumbuh dan replikasi, terjadi segregasi kromosom dan terjadi pembelahan sel.
Siklus sel terdiri dari 4 fase, tetapi hanya digambarkan 2 fase (S Phase dan M phase) karena kedua fase ini yang lebih jelas. Interfase selama ini dianggap fase istirahat, tetapi sebenarnya secara metabolism biokimia sel ini sebenarnya sangat aktif. Secara morfologi sepertinya tidak terjadi perubahan tetapi sebenarnya terjadi proses yang sangat komplek. Pada M phase (mitosis) merupakan bagian yang sangat kecil dari siklus sel. Pada tahap ini terdapat M phase dan interphase Tetapi pada mitosis merupakan bagian yang sangat spektakuler karena morfologinya sangat jelas, dimana kromosom terletak ditengah dan tertarik pada masing-masing kutub sehingga secara morfologi sangat jelas terlihat sehingga kita kira ini merupakan inti utama dari siklus sel. 




 Mitosis / nukleodivision / pembelahan nucleus tetapi juga diikuti pembelahan sitoplasma (cytokinesis)Siklus sel terdiri dari 4 tahap: G1, S, G2 dan M. G merupakan fase gap. S sangat penting karena merupakan Sitodesis dimana terjadi replikasi DNA, M
Fase G1: aktifasi metabilik sel, duplikasi organela dan komponen cytosolik, mulai replikasi centrosome
Fase S: replikasi DNA. DNA perlu direplikasi karena akan menghasilkan 2 sel maka perlu digandakan terlebih dahulu supaya sel anaknya akan mendapatkan materi yang sama persis.
Fase G2: pertubuhan sel berlanjut, sintesis enzim dan protein, replikasi centrosome komplit (fase sebelum sintesis) merupakan fase persiapan sebelum fase berikutnya/mitosis.
Fase M: mitosis/pembelahan sel, pergerakan kromosom bisa diikuti dari tengah ke tepi, akan menjadi sitokinesis (1 sel menjadi 2 sel), integrin, nutrient status. Sehingga sel membelah atau tidak juga tergantung dari nutrisi, selain itu juga perlu banyak sinyal (reseptor). G0 dimana sel tidak membelah. Sel tidak selamanya membelah dan berhenti pada saat tertentu. Ada sel yang berhenti membelah (sel yang sudah berdiferensiasi) sehingga tidak kemampuan untuk membelah. Semua factor-faktor tersebut yang menentukan apakah sel dalam fase G0 atau akan membelah.
bPertumbuhan sel/siklus sel digambarkan sebagai jam, dimana banyak factor yang mempengaruhi: reseptor tyrosine kinase, reseptor G-protein, reseptor TGF- 
Siklus sel adalah proses duplikasi, 1 sel menjadi 2 dimana pada proses tersebut ada transmisi/ perpindahan dan terjadi penerusan sehingga diusahakan sel anak bisa sama. Supaya tidak berubah maka DNA harus direplikasi secara akurat. Genom kita ada sekitar 3 milyar. Supaya bisa meyakinkan maka siklus sel dilengkapi dengan berbagai macam komponen, salah satunya dengan check point. Dari fase ke G1 sebelum masuk S ada check point yang fungsinya untuk mengecek/ meyakinkan bahwa fase sebelumnya sudah selesai baru masuk fase berikutnya. Karena siklus sel berjalan satu arah dan tidak bisa kembali lagi, sehingga harus diyakinkan bahwa fase sebelumnya benar-benar sudah selesai baru masuk fase berikutnya.

Check point yang paling penting adalah start check point, karena sekali sel masuk melalui G1 ke S, maka sel tidak bisa kembali lagi atau sel itu mati. Restriction point (titik R): garis yang harus dilalui sel bila sel sudah masuk, maka tidak bisa kembali lagi. Dari G2 ke M pertanyaannya adalah apakah semua DNA sudah direplikasi? Kalau belum maka fase itu akan diperpanjang. Apakah lingkungan favorable/ mendukung (apakah ada factor lingkungan yang tidak memungkinkan). Fase M ke G1 kromosom sudah menempel pada benang spindle atau belum, kalau belum dilekatkan dulu baru mitosis. Mitosis fase yang paling pendek. Fase G1 merupakan fase yang paling lama bila ada sel yang rusak karena harus memperbaiki dulu. Fase S juga lama/panjang karena karena ada proses replikasi (harus menyalin ATGC yang panjang) sehingga waktunya tidak bisa kita tentukan.

Check point: konsekuensi bila check point rusak/ tidak ada dapat mengakibatkan adanya penggadaan sel yang berulang-ulang (endoreduplikasi) sehingga sel anakan bukan 2n tapi bisa 4n atau 8n. Check point diperlukan supaya sel bisa berjalan normal.



Pengertian Kromatografi dan Jenis Kromatografi

Kromatografi adalahteknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer).  Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya     
 Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini.
a. Kromatografi partisi
Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi. Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang digunakan luas karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik  
  b. Kromatografi kertas
Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan. Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses besar. Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.
 
c. Kromatografi gas
Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair).  Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.
 d. HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid chromatography)
Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organik skala besar, HPLC secara ekstensif digunakan. Bi la zat melarut dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar.

Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas. Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m.


Zat Kimiawi Endothelins (ET) pada Sel Endotel

Endothelins (ET) adalah zat kimiawi yang dikeluarkan oleh sel-sel endothel, yang merupakan zat vasoaktif yang menyebabkan vasokonstriksi (faktor kontraksi) dengan menginduksi kontraksi otot polos arteriol.  Sel-sel endotel adalah sel � sel epitel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah dan ruang jantung, berfungsi sebagai pelapis fisik antara darah dan bagian dinding pembuluh lainnya. Jika terjadi perubahan lingkungan (misalnya penurunan O2) atau perubahan fisik (misalnya peregangan dinding pembuluh), maka sel-sel endotel akan mengeluarkan zat-zat perantara kimiawi yang bekerja lokal.


Endothelins (ET) dikeluarkan oleh sel-sel endothel, merupakan zat vasoaktif yang menyebabkan vasokonstriksi (faktor kontraksi) dengan menginduksi kontraksi otot polos arteriol. Isolasi dan sekuen endothelin diidentifikasi terdiri dari 21 asam amino. Terdapat 3 gen endothelin yang banyak mengandung peptide, yaitu ET-1, ET-2 dan ET-3. Pengaruh secara fisik membentuk ET yang merupakan gulungan helix sentral yang distabilisasi yang mengandung 2 ikatan rantai disulfide. Bentuk konformasi ini penting untuk afinitas yang tinggi dalam mengikat reseptor EDTA, tetapi tidak digunakan untuk mengikat ETB-4. Translasi sebagai prepropeptida dan ditranslokasi menuju sirkulasi sebagai bentuk pro Big ET-1, bioaktif ET-1 dikeluarkan ketika Big ET-1 kebocoran oleh enzim yang mengubah endothelin pada sisi aktif. 

Pada pengeluaran pertama ET-1 bisa sangat berbeda kerjanya dibandingkan dengan reseptor yang terikat. Kadar sirkulasi basal dari ET-1 : < 1 - 3 pg/mL, tetapi diketahui bahwa akan bertambah bila terjadi didalam atrial dan hipertensi pulmonary, arterosklerosis, kegagalan fungsi jantung, kanker dan penyakit yang berhubungan dengan paru-paru seperti COPD dan asma.

Pengukuran endothelin 1 (ET-1) dengan menggunakan metode ELISA memiliki nilai normal untuk sampel plasma EDTA : 1,1 � 2,4 pg/mL (rerata 1,8 pg/mL). Jika digunakan sampel serum maka nilai normalnya adalah 1,2 � 2,5, pg/mL (rerata 1,8 pg/mL). Pengukuran endothelin dalam serum/plasma dapat dilakukan dengan teknik ini. Didasarkan pada Ikatan spesifik antara Antigen-antibody.  


Sifat Dwilapis Lipid Pada Membran Sel

Membran sel tersusun atas lipid bilayer atau dua lapis lipid, selain itu juga terdapat protein dan karbohidratnya juga.  lipid bilayer memiliki sifat bagian dalam lapisan memiliki sifat tidak suak dengan air atau hidrofobik dan bagian luar memiliki sifat hidrofilik atau suka air. ketika gliserofosfolipid berada di dalam lingkungan basah. Di dalam sistem basah, gugus polar lipid berjejer menuju polar, lingkungan basah, sedangkan ekor hidrofobik memperkecil hubungannya dengan air dan cenderung menggerombol bersama-sama, membentuk vesikel; bergantung pada konsentrasi lipid, interaksi biofisika ini dapat berujung pada pembentukan misel, liposom, atau dwilapis lipid. Penggerombolan lainnya juga diamati dan membentuk bagian dari polimorfisma perilaku amfifila (lipid). Polimorfisme lipid adalah cabang pengkajian di dalam biofisika dan merupakan mata pelajaran penelitian akademik saat ini.  Bentuk dwilapis dan misel di dalam medium polar oleh proses yang dikenal sebagai efek hidrofobik. Ketika memecah zat lipofilik atau amfifilik di dalam lingkungan polar, molekul polar (yaitu, air di dalam larutan air) menjadi lebih teratur di sekitar zat lipofilik yang pecah, karena molekul polar tidak dapat membentuk ikatan hidrogen ke wilayah lipofilik daru amfifila. Jadi, di dalam lingkungan basah, molekul air membentuk kurungan "senyawa klatrat" tersusun di sekitar molekul lipofilik yang terpecah.
Pada teori mozaik fluida membran merupakan 2 lapisan lemak dalam bentuk fluida dengan molekul lipid yang dapat berpindah secara lateral di sepanjang lapisan membran. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana komponen-komponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi semipermanen komponen muchus membran sel semipermanen di lapisan membran
Secara alami di alam fosfolipid akan membentuk struktur misel (struktur menyerupai bola) atau membran lipid 2 lapis. Karena strukturnya yang dinamis maka komponen fosfolipid di membran dapat melakukan pergerakan dan perpindahan posisi. Pergerakan yang terjadi antara lain adalah pergerakan secara lateral (Pergerakan molekul lipid dengan tetangganya pada monolayer membran) dan pergerakan secara flip flop (Tipe pergerakan trans bilayer).

Fosfolipid merupakan lipid yang jumlahnya paling melimpah dalam sebagian besar membran. Kemampuan fosfolipid untuk membentuk membran disebabkan oleh struktur molekularnya. Fosfolipid merupakan suatu molekul amfipatik, yang berarti bahwa molekul ini memiliki daerah hidrofilik(menyukai air) maupun daerah hidrofobik (takut dengan air). 
Berdasar struktur tersebut maka membran sel bersifat semi permeable atau selektif permeable yang berfungsi mengatur masuk dan keluarnya zat dari sel.


Metode ELISA ( Enzyme Linked Immune Sorbent Assay )

Enzyme-Linked Immune-Sorbent Assay atau ELISA atau yang sering sebut uji kekebalan enzimatis. ELISA relatif murah dan lebih aman dibanding RIA (radio Immuno Assay) yang menggunakan bahan radiokatif dan dapat dikerjakan di laboratorium kecil tanpa alat pemecah radioaktif gamma. Metode ELISA (enzym-linked immunosorbent assay) metode dalam penelitian dengan Berdasarkan : Ikatan spesifik antara antigen (Ag) � antibody(Ab).

ELISA dipakai untuk pengujian semua antigen, hapten atau antibody. Paling banyak dipakai di laboratorium klinis, misalnya uji immunoglobulin G dan E, hormone seperti insulin, esterogen dan gonadotrofin.

Antibody yaitu Antibodi disekresi oleh Sel Plasma (Sel B), Biasanya digunakan monoklonal Antibody karena lebih spesifik untuk epitop tertentu daripada policlonal antibodi. Dapat dibeli terpisah atau dalam paket ELISA Kit, biasanya diproduksi dengan cara induksi respon imun humoral pada hewan coba ( rat, mouse) dengan cara injeksi Antigen berulang, dilakukan ekstraksi sel dan purifikasi Ab. Dapat juga diekstraksi dari manusia yang telah diimunisasi dengan Ag tertentu. 

Terdapat 2 Teknik Metode ELISA  
Teknik Kualitatif adalah   Berdasarkan bahwa tiap antibodi berikatan pada antigen yang spesifik. 
Teknik kuantitatif  berdasarkan jumlah ikatan antigen-antibodi yang ditentukan dengan nilai absorbansi. Teknik ini menggabungkan spesifitas antibody dengan kepekaan uji enzymatis dengan spektrofotometer biasa atau antigen dilekatkan pada enzyme yang mudah ditera. 

Beberapa type ELISA, sebagai berikut :
�         Direct ELISA, biasanya digunakan dengan kompetisi dan Inhibisi ELISA. Digunakan untuk deteksi antigen.
�         Indirect ELISA, antigen terikat pada plate. Digunakan untuk deteksi antibody.
�         Sandwich ELISA, antibodi terikat pada Plate. Digunakan untuk deteksi antigen.
�         Capture ELISA, antihuman antibodi terikat pada Plate. Digunakan untuk deteksi antibody. 

ELISA dapat dipakai untuk pengujian antigen lewat cara persaingan (kompetitip) atau cara antibody ganda (double antibody). Cara Persaingan. Campuran dari antigen yang dilekatkan pada enzim yang diketahui jumlahnya dengan antigen tanpa enzim yang belum diketahui jumlahnya, direaksikan dengan antibody yang dilekatkan pada permukaan padat. Setelah reaksi selesai membentuk kompleks lalu dicuci, kemudian ditambahkan substrat yang cocok untuk enzim dan aktivitas enzim diukur. Sejumlah antigen yang belum diketahui jenisnya direaksikan dengan antibody tertentu yang dilekatkan pada permukaan padat, dicuci dan direaksikan dengan antibody berenzim. Setelah dicuci lagi, ditambahkan substrat enzim khusus. Aktivitas enzim yang diuji dengan cara biasa menunjukkan jumlah antigen yang ada. Antiserum yang dicurigai, direaksikan dengan antigen khusus yang dilekatkan pada bahan padat,kemudian dicuci. Selanjutnya direaksikan dengan antibody yang bersifat anti-immunoglobulin berenzim yang akan melekat pada antibody yang tadi tererap dari anti serum mula-mula. Kompleks yang terjadi dicuci, ditambahkan substrat, aktivitas enzim sesuai jumlah antibody pada serum mula-mula.

Beberapa bahan yang digunakan dalam teknik ELISA, yaitu :
Bahan padat yang dipakai dalam ELISA termasuk selulosa, dextran berangkai silang, poliacrilamide, polistiren dan polipropilen. Bentuknya dapat berupa butiran, lempeng atau tabung.
Antigen dapat dilekatkan secara adsorpsi pasif atau diikat secara kovalen dengan sianoben-bromida.
Enzim dipilih yang aktivitasnya tinggi misalnya fosfatse alkalis dan peroksidase. Bahan pengabung yang sering dipakai adalah glutaraldehide.
Substrat paling baik jika stabil, aman dan murah. Substrat tidak berwarna yang menjadi berwarna karena perubahan oleh enzim. Misalnya : p-nitrofenilfosfat berubah menjadi p-nitrofenol berwarna kuning oleh enzim fosfatase alkalis. Substrat lain, misalnya diamino benzidine,5-aminosalisilat, O-fenilen-diamin dipakai untuk enzim peroksidase.

Material dalam metode ELISA
�         AntigenM
�         onoclonal Ab
�         Microplate
�         Blocking Buffer
�         Serum sample
�         Conjugate (secondary Ab + Enzyme)
�         Subtrate
�         Stop Sol.
Alat yang digunakan dalam metode ELISA
�         96-Wells Microplate
�         Micropipettes
�         Multichannel pipette
�         Elisa test kit
Parameters utama : Solid phase (microplate) -- 1 reactant -- Separation -- bound & free reagent -- Color development  --- enzyme


Makanan Penyebab Gigi Kuning

Gigi putih bersinar adalah dambaan semua orang seperti iklan-iklan di televisi yang memperlihatkan gigi yang putih cemerlang. rasa percaya diripun akan muncul apabila kita dengan penampilan gigi yang bersih cemerlang, sehingga kitapun tidak malu malu untuk membuka senyum lebar dan tebar pesona di muka umum. ya seperti senyum para miss universe pada saat kontes di panggung sejagat.. xixixixi... Akan tetapi terkadang tanpa disadari asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan warna gigi yang putih jadi berubah kuning. Seperti  teh, kopi, minuman bersoda, dan jenis-jenis buah beri termasuk beberapa makanan yang dikenal sebagai pembuat noda pada gigi.

Selain obat-obatan dan gaya hidup, ada beberapa makanan yang berpengaruh pada warna gigi seseorang, berikut Beberapa jenis makanan lain yang bisa menyebabkan perubahan warna pada gigi yaitu :

1. Tomat.

 Tomat juga memiliki kandungan warna alami pada buah yang bisa meninggalkan noda pada gigi. apalagi jika tomat ini sudah diolah menjadi saus tomat botolan. Kandungan zat pewarna tambahan di dalam saus tomat juga bisa memperparah bekas warna yang ditinggalkan pada gigi. Selain saus tomat, saus sambal, kecap, dan kuah kare yang kental juga menjadi penyebab noda pada gigi.

2. Minuman suplemen kesehatan dan minuman olahraga.

 Minuman olahraga dan minuman kesehatan juga bisa menyebabkan kerusakan enamel gigi karena kandungan asamnya. Akibatnya noda akibat minuman ini akan tertinggal di gigi. Sebaiknya pilih air putih sebagai pengganti minuman kesehatan ataupun minuman olahraga.

3. Jus buah.

Meski sebenarnya buah berpengaruh positif pada tubuh, namun kandungan asam dari buah yang terlalu tinggi dan terlalu banyak bisa merusak gigi. Kandungan asam dalam buah bila dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah yang terlalu banyak juga bisa merusak enamel gigi dan membuat gigi berlubang.

4. Wine.

Bekas tumpahan wine di taplak meja biasanya akan sulit dihilangkan. Tak heran bila wine, terutama red wine, juga bisa meninggalkan noda pada gigi. Kandungan asam, tannin, dan chromogen pada wine itulah yang menyebabkan noda pada gigi. Selain anggur merah, anggur putih juga bisa membuat gigi berubah warna.

5. Antibiotik.

Terlalu sering mengonsumsi obat-obatan, terutama antibiotik, juga bisa menyebabkan gigi menjadi kuning. Kandungan tetracycline pada antibiotik adalah faktor penyebab gigi menjadi kuning, terutama pada anak-anak. Konsumsi antibiotik yang mengandung tetracycline selama masa pertumbuhan gigi (mulai dari awal kehamilan sampai anak usia 8 tahun) bisa membuat gigi anak mengalami perubahan warna yang bersifat permanen.  Antibiotik yang mengandung tetracycline ini sudah sedikit dan jarang digunakan lagi pada saat ini. Dikutif dari TRIBUNNEWS (dot) COM  



Pengertian Apoptosis

Apoptosis adalah suatu kejadian yang dikendalikan secara genetik yang menghasilkan penghilangan sel yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkan gangguan pada jaringan. Apoptosis juga merupakan hal penting dalam perkembangan sel normal dan homeostasis jaringan normal. Apoptosis sering seklai diistilahkan kematian sel yang terprogram. Apoptosis merupakan komponen yang normal pada perkembangan. Setiap hari dalam tubuh kita terjadi apoptosis, Sel ada yang berproliferasi (lahir) dan ada yang mati. Untuk terjadi apoptosis ada berbagai macam stimulus. Stimulusnya sangat terkontrol, bukan sesuatu yang asal lalu mati. Apoptosis dibedakan dengan necrosis karena necrosis menginduksi inflamasi yang dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Proses dimana sel memegang peranan dalam kematiannya sendiri.

Apoptosis merupakan salah satu cara untuk menyingkirkan sel yang mengandung lesi DNA, sehingga dapat dicegah terjadinya transformasi sel. Mutasi yang terjadi pada berbagai gen, terutama gen yang berperan meningkatkan apoptosis, memungkinkan terjadinya resistensi terhadap proses apoptosis yang diperlukan untuk mencegah transformasi. Sel mengalami apoptosis mengalami serangkaian yang terjadi didalam sel salah satunya pengaktif caspase.  Selainitu juga molekul yang juga berfungsi untuk apoptosis adalah p53. 

Dalam kaitan dangan pengendalian onkogenesis, apoptosis merupakan mekanisme penting untuk mencegah proliferasi sel yang mengalami kerusakan DNA, agar sel dengan DNA tersebut tidak dilipatgandakan. Kegagalan sel tumor untuk melaksanakan mekanisme apoptosis merupakan salah satu faktor yang mendasari pertumbuhan sel tumor yang makin lama makin besar. Akibat defek mekanisme apoptosis yang lain adalah kemungkinan terjadinya keganasan.

Langkah apotosis:  (A) merusak kromatin pada nucleus; (B) sel melanjutkan menyusut; (C) mengepak dirinya sendiri untuk dimakan makrofag; (D) terjadi apoptotic body, hancuran sel di dalam bukan dilepas (pada recrosis organelanya pecah dan keluar sehingga oleh dikenali oleh antibody).

Apaptosis adalah merupakan kematian sel yang terprogram, melalui proses  kerusakan kromatin pada nukleus / inti sel, sel menyusut dengan pembentukan badan-badan apoptosom (apoptotic body) dan sel mengepak dirinya sendiri untuk dimakan makrofag. Apoptosis terjadi setiap hari dalam tubuh kita. Sel dalam tubuh ada yang berproliferasi dan ada yang mati.  

Central pada apoptosis yaitu caspase yang beperan sebagai protein eksekutor. yang memutuskan sel untuk apoptosis.  Caspase atau Cysteine Aspartate Specific proteases. Caspase belum aktif merupakan procaspase. Agar berfungsi maka caspase harus mengami aktivasi dengan pemotongan sisi karboksil dan pemotongan sisi terminal amino (jumlah amino) sehingga sisinya menempel sedemikian rupa sehingga menjadi active caspase. Ada stimulus tertentu yang merubah procaspase menjadi caspase. 1 molekul caspase dapat mengaktifkan molekul caspase yang lainnya (snowball effect). Hasil caspase-nya berbeda-beda yang memiliki fungsi masing-masing. Aktifnya caspase maka selanjutnya ada pembentukan vesikel, dan degradasi DNA. Sel mengalami apoptosis (DNA intake), kemudian  mulai terlihat leader (DNA dipotong) dengan urutan tertentu sehingga punya pola tertentu (cirri-ciri sel yang mengalami apoptosis, sedangkan kalau necrosis DNA-nya remuk).

Mekanisme induksi pemicu terjadinya apoptosis bisa karena radiasi, cell stress, infeksi virus, death receptors, grandzymes (sel mengeluarkan granzymes yang akan menginduksi apoptosis pada mekanisme imun).


Apoptosis  dibagi 2 jalur utama yaitu :  intrinsik (Mitochondrial pathway) dan ekstrinsik (Death receptor). Intrinsik: contohnya cellular stress (radiasi, infeksi virus, growth faktor, stress oksidasi) intinya sinyal apoptosisnya melalui pintu mitokondria yang melibatkan protein bcl-2 dan bugs (p53), walaupun dari luar tetapi hancurnya di mitokondria.


Penentuan Kadar Besi Pada Serum

Besi merupakan unsur mikro (trace element) yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh. Besi berperan dalam tubuh pada proses respirasi seluler. Besi merupakan komponen hemoglobin, myoglobin,dan cytochrome, terdapat juga pada enzim katalase dan peroksidase. Didalam semua komponen tersebut besi sebagai porphyrin. Besi yang tersisa didalam tubuh berikatan dengan protein, sebagai protein penyimpan (ferritin dan hemosiderin) dan bentuk transport (transferin).

Senyawa yang mengandung besi bagi tubuh berperan dalam: pengangkutan (carrier) O2dan CO2, pembentukkan sel darah merah, sebagai katalisator pembentukkan betakaroten menjadi vitamin A, sintesis collagen, sintesis DNA, detoksifikasi zat racun pada hepar,  transport elektron pada mitokondria, dan proliferasi dan aktivasi dari sel T, sel B dan sel NK.

Jumlah besi dalam kompartemen tubuh yaitu dalam bentuk transferin 3-4 mg, hemoglobin dalam sel darah merah 2500 mg, dalam bentuk mioglobin dan berbagai enzim 300 mg, disimpan dalam bentuk feritin dan dalam bentuk hemosiderin 1000 mg. Tidak ada jalur fisiologis untuk pengeluaran Fe dari tubuh, sehingga absorbsi diatur secara ketat melalui duodenum proksimal. Pada keadaan normal tubuh akan kehilangan 1 mg besi per hari dan akan digantikan melalui absorpsi.

Absorbsi besi akan meningkatkan bila dikomsumsi bersama dengan asam Askorbat (vitamin C) yang banyak terdapat pada buah-buahan tertentu. Faktor penghambat absorbsi besi diantaranya adalah pytat, besi berikatan pada senyawa fenolik (kopi, teh, sayuran tertentu, bumbu tertentu), magnesium dan kalsium ( misalnya dalam susu dan keju).

Dalam diet sebagai besi heme (Fe3+) yang berasal dari hewani dan  besi non heme (Fe2+) yang berasal dari nabati. Besi diabsorbsi dalam bentuk Fe2+, reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ oleh enzim ferireduktase. Enterosit di duodenum proksimal berperan dalam absorbsi Fe. Besi diangkut dalam tubuh adalah dalam bentuk transferin. Konsentrasi Transferin dalam plasma sekitar 300 mg/dL.

Mekanisme absorbsi besi dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1.     Intake besi dari diet dalam bentuk besi heme atau non heme yang penyerapannya diatur secara ketat pada duodenum proximal sehingga tubuh hanya kehilangan besi 1 mg/hari yang pengaturannya lewat absorpsi.
2.        Besi dalam bentuk Ferri (Fe3+) direduksi menjadi bentuk ferro (Fe2+) oleh ferireduktase yang terdapat pada permukaan enterosit. Enterosit terdapat pada permukaan duodenum proximal yang berperan untuk penyerapan besi. Adanya Vitamin C dalam diet mempermudah reduksi ferri menjadi ferro. Kemudian besi ferro diangkut kedalam enterosit menggunakan divalent metal transporter (DTM1)
3.        Besi dalam bentuk heme ( Ferro ) dibawa oleh pengangkut heme yang disebut Heme Transport (HT)  ke dalam enterosit dan oleh Heme Oksidase (HO) , Fe2+ dibebaskan dari heme.
4.    Besi dalam enterosit, kemudian sebagian disimpan dalam bentuk ferritin dan sisanya berikatan dgn Feroportin (FP) untuk dibawa menembus membran basolateral.
5.   Feroportin (FP) dapat berikatan dengan Hephaestin ( serupa dengan Ceruloplasmin )  yang memiliki aktifitas feroksidase untuk dibawa ke aliran darah.
6.    Didalam plasma Hephaestin akan mengubah  besi dalam bentuk ferro menjadi ferri yang kemudian berikatan dengan transferin yang merupakan protein pengangkut besi dalam plasma darah.
Besi yg bebas tadi akan digunakan  oleh sel / jaringan. Terdapat dua kelompok pemakaian besi, yaitu kelompok fungsional  (80 %) :  hemoglobin, myoglobin, sumsum tulang, dan enzim. Kelompok kedua yaitu kelompok cadangan (20%), disimpan dalam bentuk     ferritin dan hemosiderin. Pada kondisi normal feritin menyimpan besi yang dapat diambil kembali untuk digunakan sesuai kebutuhan.
Defisiensi besi sebagian besar akan menyebabkan anemia normositik hipokrom. Tanda-tanda lain adalah terganggunya pembentukan eritrosit, terganggunya produksi kolagen, dan menurunnya pembentukan sel T, sehingga menyebabkan terganggunya  respons lymposit terhadap mutagen dan antigen.
Pada kondisi normal dalam tubuh nilai rata-rata besi didalam serum darah adalah  65 � 175  �g besi /100 ml serum.


Tumor Supressor Gen (TSG) p53

Tumor supressor gen (TSG) merupakan kelompok gen yang lebih baru ditemukan setelah onkogen, dikenal sebagai antionkogen, karena berfungsi melakukan kontrol negatif terhadap proliferasi sel. Gen p53 merupakan contoh lain kelompok TSGs, yang mempunyai peran aktif dalam mendeteksi kerusakan DNA dan menginduksi gen reparasi DNA serta menginduksi apoptosis.  
Gen p53 adalah suatu gen supressor tumor yang dikenal sebagai master guardian of the genome dan merupakan unsur utama yang memelihara stabilitas genetik. Fungsi gen p53 mendeteksi sintesis DNA yang salah atau kerusakan DNA. Dapat dimengerti bahwa mutasi p53 menyebabkan disfungsi p53 dan berakibat DNA yang mengalami kerusakan tetap dilipatgandakan, menghasilkan populasi sel mengandung DNA abnormal. Inaktivasi gen p53 dapat terjadi bila berkaitan dengan protein medium 2 atau karena adanya infeksi virus misalnya EBV.
Aktivitas tumor supressor gen p53
Gen yang produknya mempunyai fungsi penting dalam mengaktivasi cell cycle check point berfungsi memperpanjang waktu tertentu dalam siklus sel untuk memberi kesempatan perbaikan DNA. Gen yang mempunyai fungsi penting dalam cell cycle check points, yaitu p53.
p53 hanya akan berfungsi baik bila normal. Pada umumnya defek pada p53 adalah point mutation, disfungsi gen p53 dapat terjadi akibat pengikatan p53 oleh onkogen virus. Bila hal ini terjadi maka sebagian besar fungsi p53 terganggu.
Proses keganasan (malignansi) dapat terjadi karena perilaku sel yang abnormal akibat adanya mutasi gen. Mutasi gen, dalam hal ini terjadi pada gen p53, karena berikatan dengan onkogen virus seperti EBV.

Peran p53 dalam siklus sel
Bila ada kerusakan DNA karena x-rays, UV atau yang lain maka ATM/ATR kinase akan diaktifkan, yang akan mengaktifkan Chk1/Chk2 kinase dimana Chk1/Chk2 fungsinya adalah memfosforilasi p53. Pada keadaan tidak terfosforilasi p53 dicengkeram oleh protein Mdm2. Pada keadaan normal, kadar p53 dalam sel sangat rendah karena dipegangi oleh Mdm2. Bila p53 dalam keadaan dipegangi Mdm2 maka akan cepat didegradasi karena Mdm2 akan menambah ubikuitin pada p53. Sehingga p53 menjadi sasaran bagi proteosom, akan terus didegradasi sehingga konsentrasinya akan rendah. Dalam keadaan kerusakan DNA maka ada ATM/ATR; Chk1/Chk2 yang teraktifasi sehingga p53 akan terfosforilasi dan timbul tonjolan sehingga Mdm2 tidak bisa lagi memegangi p53. Karena tidak bisa dipegangi maka akan kehilangan sifatnya sehingga bersifat stabil (artinya akan terus diproduksi p53). p53 juga merupakan faktor transkripsi, dan dia akan membantu transkripsi gen berikutnya, yaitu p21 (inhibitor dari cyclin) sehingga DNA rusak maka siklus selnya akan berhenti untuk memberi kesempatan repair. Setelah p21 ditranskripsi maka akan menghasil p21 mRNA dan setelah ditranslasi akan menghasilkan p21 yang merupakan protein inhibitor CDK. Maka cyclin G1/S yang tadinya aktif karena kehadiran p21 dia menjadi tidak aktif sehingga sel berhenti pada satu fase (akan hilang). Pada saat yang sama p53 mengaktifkan repairing bersama molekul lain akan mengusahakan agar DNA yang rusak untuk diperbaiki. Bila tidak bisa diperbaiki maka p53 akan menghentikan, mereparasi dan bila tidak bisa direparasi maka menunjukkan sel untuk apoptosis. p53 selain faktor transkripsi untuk p21 juga merupakan faktor transkripsi untuk bax (protein pro apoptosis). p53 merupakan penjaga genom, sehingga 9% karsinoma terjadi karena mutasi pada p53.
Hubungan p53 dan pRb. Dimulai dari cyclin D/CDK, dimana cyclin D ditentukan oleh faktor eksternal. Begitu ada cyclin D/CDK ada maka dia akan berfungsi untuk memfosforilasi protein retinoblastoma sehingga retinoblastoma yang tadinya memegang E2F akan melepas, E2F akan memungkinkan memungkinkan terjadinya transkripsi maka akan melewati. Tetapi disisi lain ada p53 yang akan meringkat dengan kerusakan DNA atau dengan kerusakan yang lain. p53 berikatan dengan Mdm2 tetapi dengan hadirnya pengganggu tadi maka p53 akan bebas dan menghasilkan p21, p21 akan menghambat cyclin D/CDK sehingga tidak jalan (fungsinya sebagai rem dan gas).
Sumber : Molecular Biology of the cell Fifth Edition 2008


close
Jadi Agen Iklan